Menelusuri Sistem Keamanan Di ID3 OS

 Tekhnologi

Jakarta – Tak cuma soal pengembangan yang dari level kernel, kelebihan ID3 OS juga terletak di fitur-fitur yang diusungnya. ID3 OS punya fitur keamanan yang bisa dibilang belum pernah dilihat di OS berbasis Android lainnya. TSM menamainya lockscreen dan panic button.

Kedengarannya memang biasa saja, atau mungkin TSM belum menemukan nama yang tepat. Tapi dipastikan kedua fitur punya fungsi yang sangat keren, benar-benar out-the box. Penasaran?

Sesuai namanya lockscreen punya fungsi yang sama dengan kebanyakan lockscreen. Tapi kerennya, TSM secara cerdik memadukan dua verifikasi sekaligus dalam satu tampilan lockscreen, yakni slide to unlock dan pattern.

Disinilah kelebihannya, slide to unlock ternyata adalah guest mode. Jadi semisal ponsel pengguna dipinjamkan ke temannya, si peminjam bisa mengakses ponsel tersebut lewat slide to unlock tanpa perlu memasukkan pattern password.

Alhasil ketika ponsel diakses melalui slide to unlock, si peminjam tak akan menemui data-data sensitif kepunyaan pengguna. Menu yang bisa diakses peminjam akan terbatas pada menu-menu standar ponsel.

Sedangkan untuk mengakses datanya sendiri, pengguna bisa melalui jalur pattern. Yang membuatnya makin keren, tampilan pattern-nya pun tak seperti pada umumnya. Titik-titik yang menghubungkan pattern merupakan sebuah ikon fitur ponsel itu sendiri, seperti kamera, WiFi, telepon, SMS, dan lain-lain.

Panic button bak blackbox pesawat

Siapa sangka kalau kecelakaan pesawat Air Asia beberapa waktu lalu bisa menginspirasi TSM untuk mengembangkan fitur panic button. Bahkan saking dianggap revolusionernya fitur ini, disebut Joegianto, TSM Director of Business Development, pihak Federal Aviation Administration (FAA) sudah meminati fitur ini.

Karena sifatnya darurat, fitur panic button sengaja dibuat sangat mudah untuk diakses di ID3 OS. Pengguna hanya perlu melakukan tap di layar dua kali kemudian melakukan slide. Panic Button akan langsung tampil berupa tombol besar warna merah yang memenuhi layar.

Seperti diketahui, dalam sebuah penerbangan penumpang yang membawa perangkat elektronik diwajibkan mengaktifkan mode pesawat. Tujuannya baik, yakni agar konektivitas di ponsel misalnya, tak menggangu operasional pesawat.

Namun sebenarnya ponsel menyimpan potensi pengirim pesan ala blackbox kalau-kalau pesawat berpotensi mengalami masalah. Pengguna tinggal langsung mengaktifkan panic buton yang akan membangunkan ponsel dari mode pesawat, dan kemudian akan mengirim pesan SMS ke 10 nomor ponsel kerabat yang sudah didaftarkan.

Di ketinggian tertentu ponsel memang tak akan mendapat sinyal seluler, namun kalau berhasil mendapat sinyal seluler walau satu ‘balok’ ponsel akan langsung mengirim sms. Isi pesannya adalah koordinat lokasi terakhir ponsel, berupa longitude dan latitude yang diperoleh dari GPS ponsel.

“Kalau fitur panic button berhasil mengirimkan SMS yang isinya koordinat terakhir, ini bakal sangat memudahkan tim penolong. Kalau blackbox kan bisa bergeser-geser lokasinya, karena terpengaruh cuaca atau lingkungan,” ujar Joegianto.

Fitur panic button juga berguna kalau penggunanya tersesat di gunung. Jalankan panic button, kerabat akan mengetahui letak persis pengguna berbekal koordinat yang dikirimkan melalui SMS.

Itu tahap satu, TSM juga terus mengembangkan fitur panic button di ID3 OS. Tahap duanya dikatakan Joegianto diharapkan fitur panic button juga bisa mengirim koordinat ke media sosial. Hanya saja untuk melakukan itu tentu ponsel pengguna harus tersambung ke jaringan internet yang baik.

“Bahkan sekelas FAA sudah sangat meminati fitur panic button, mereka menginginkannya,” umbar Joegianto.


(yud/asj)

Related Posts

Leave a Reply